12.27.2011

Mengkhianati Tuhan

Dirancang, dipertahakan, dimunculkan. Perjalanan menuju ruang dunia yang terang, bersanding antara keelokan dan keburukan, berjajar antara kewajiban dan kebutuhan dan deretan deretan lain yang susah terdefinisikan. Pertama kamu dirancang oleh sang Maha Pencipta melalui pertemuan ovum dan "pemenang" sperma. Lalu kamu dipertahankan dalam sebuah wadah seorang pejuang kehidupanmu, tidak sebentar kamu membebani setiap detik kehidupannya. Ditampung dan dihidupi dalam interval waktu sekitar sembilan bulan. Tak pernah ditinggal atau dilupakan di setiap kesempatan. Waktu berjalan dan berlalu, fase baru datang tanpa ragu. Bulan satu dua tiga dan tanpa terasa bulan kesembilan datang. Kamu dimunculkan dalam bentuk yang sempurna, sebuah rancangan dengan akurasi kesempurnaan yang tak terkira. 
Setelah itu paket perjalanan kehidupan dimulai. Diawali dengan tangisan dan rengekan suara bayi yang belum tersentuh dosa. Tangisan yang memberi sebuah rambu bahwa "aku" sehat. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, tahun, interval waktu yang mengiringi. Bayi, batita, balita, anak anak, remaja, dewasa, manula, deretan pertumbuhan yang dilewati setiap manusia. Mereka tumbuh dengan nyamannya, jalan hidup yang diberikan Tuhan. Sebuah kelebihan memori yang di berikan melebihi makhluk lain yang diciptakan. Sepasang tangan, mata, kaki, telinga. Dikreasikan anggota tubuh yang lainnya. Adanya sebuah kelamin sebagai tanda, kamu wanita atau pria. Satu per satu kenikmatan diberikan cuma cuma. Sampai kebahagiaan yang paling sederhana. Penyerapan oksigen di dunia yang tak terkira, pembebasan jumlah oksigen yang kau serap tiap harinya. Dilihatkan sebuah gambaran dunia yang indah, menjulang tinggi dengan gunungnya, terbentang luas lautannya, berjejer rapi hutannya. Kenikmatan demi kenikmatan di berikan dengan cuma cuma. Apa kamu masih berani mendustakannya.
Diawal kehadiran kamu berjanji akan mengingat kuasa-Nya, kamu belajar ilmu ilmu tentang-Nya, percaya akan keesaan-Nya, berjanji setia kepada-Nya. Seiring berkembangnya raga dan terisinya jiwa. Semakin hilangnya kepercayaan yang telah ada. Semakin banyak manifesto yang engkau jalankan, pemikiran modernisme yang merasuki jiwa. Urutan waktu berjalan semakin membabi buta, semakin tua tua dan tua. Namun isi otak dan pemikiran semakin terkontaminasi dengan perubahan pola zaman. Ilmu, kepercayaan, janji dan semua yang berrelasi dengan Tuhan semakin menipis, mencair dan menghilang. Sehingga tanpa direncanakan semakin kita mendekati kematian, semakin kita mengkhianati Tuhan.